Traveling Bawa Anak: Menghitung Budget Ke Singapura (+ Itinerary)

Thursday, April 27, 2017


Baru tadi pagi kepikiran buat sharing persiapan ke Singapura akhir tahun 2016 lalu. Eh, tiba-tiba ada teman nanya isi itinerary waktu ke sana. Baiklah, sekalian gue tulis di blog saja ya. Siapa tahu bisa membantu yang lagi pusing tujuh keliling nyusun itinerary.

  • BUDGET
Buat gue, yang paling utama untuk menyusun itinerary adalah budget. Berapa dana yang ingin kita pakai di liburan kali ini? Sebaiknya pakai angka pasti, jangan pakai dana tersembunyi hehe.. Misalkan, budget yang gue punya 16 juta Rupiah, nggak boleh lebih sepeser pun. Itu sudah mencakup semua pengeluaran selama perjalanan, termasuk yang pakai kartu kredit. Mulai dari tiket sampai jajan air mineral. Kalau bisa malah termasuk ongkos transportasi dari bandara ke rumah.

Pertama, cek harga hotel dan harga tiket pesawat PP (pulang pergi). Selama ini gue sering pesan tiket dan hotel melalui Traveloka (fakta, bukan ngiklan). Karena selain mudah cara pemesanannya melalui aplikasi, juga sering ada promo pas wiken. Tapi jangan langsung menutup mata dari situs-situs booking online lainnya walaupun sudah punya langganan.


1. Tiket Pesawat

Akhirnya Mister pesan di situs Lion Air dengan harga 499.900, dengan pertimbangan harga segitu sudah termasuk bagasi 20 kg per orang. Total bagasi jadi 60 kg per penerbangan. Cukup banget lah buat emak, babe, dan bocah yang pecicilan. Berangkat pagi (6/11) dari Soekarno-Hatta dan pulang siang (9/11) dari Changi. Total pengeluaran untuk tiket PP =  Rp 3.191.400,-. Sudah termasuk asuransi dan bagasi. All in? Ya! Belum termasuk makanan sih... Kukuruyuk...

Psst..., itu bukan harga termurah yang Mister temukan ya. Sebelumnya Mister dapat harga sekitar Rp 2.700.000,- termasuk bagasi 15 kg pergi dan 20 kg pulang, di situs Jetstar Asia. Rupanya waktu itu sedang Friday Fare Frenzy. Berhubung Mister nggak ngeh dan berpikir siapa tahu minggu depannya lebih murah lagi. Kesempatan lewat begitu saja. Gigit jari Mister!

Oiya, kita bisa berburu tiket murah juga di Garuda Online Travel Fair (GOTF). Ada sih yang nggak online. Cuma apa daya emak-emak yang punya soulmate bocah pecicilan. Antriannya sudah pasti panjang dan lama. V bisa cranky bin rewel.

Saldo = 16,000,000 - 3,191,400 = Rp 12.808.600,-


2. Akomodasi

Ini kali ketiga, gue ke Singapura. Pertama tahun 2010, berdua dengan Mister, Lalu yang kedua, tahun 2012, kali ini tambah V dan omanya. Kok jarang? Ada yang bilang ke Singapura gampang seperti jalan-jalan ke Bandung. Hm.. Gue ke Bandung aja baru 2015 dan 2016 setelah terakhir ke sana tahun 2010 *tepok jidat*.

Biasanya gue menginap di Value Hotel Thomson. Awalnya suka banget. Budget hotel yang bersih dan nggak terlalu sempit. Dan, bisa minta kamar yang ada jendelanya. Soalnya kamar berjendela itu penting. Selain untuk mengatur mood di pagi hari, berguna juga untuk mengatur ulang itinerary. Cerah, mendung, atau hujan? Hari ini mau ke taman outdoor atau museum?

Nah, kali ini gue memutuskan untuk menginap di YWCA Fort Canning Lodge atas rekomendasi Mister. Hotel yang terletak di dekat stasiun MRT Dhoby Ghaut ini mematok harga sekitar 1 s/d 1.1 jutaan per malam untuk kamar dengan double bed. Sengaja pilih yang double bed, lebih aman buat V.

Kenapa pindah hotel? YWCA Fort Canning Lodge lumayan dekat dengan stasiun MRT Dhoby Ghaut, yang berada di seberang Plaza Singapura. Bahkan, cukup dekat dengan Sommerset dan Orchard yang akhirnya jadi tempat bersantai dan makan malam. Sedangkan, saat menginap di Value Hotel Thomson hanya ada mini market di sebelah hotel. Banyak tempat makan di sekitar hotel tapi gue nggak tahu halal atau tidak. Satu-satunya gedung pertokoan terdekat adalah Novena Square (stasiun MRT Novena). Kasihan kalau ingat V di stroller dan omanya pulang balik jalan kaki hotel-stasiun. Jarak dari hotel ke stasiun Novena sebenarnya nggak terlalu jauh untuk orang dewasa yang segar bugar. Namun, dari segi waktu memang kurang efisien. Orchard juga harus dimasukkan ke dalam tujuan utama, yang menurut gue kurang praktis. Oiya, kamar YWCA Fort Canning Lodge lebih luas dibanding kamar setipe di Value Hotel Thomson. Kamar mandinya juga ada bilik shower dengan pintu kaca.

Total pengeluaran hotel 4 hari 3 malam = Rp 2.922.272,- sudah termasuk asuransi dan diskon 10% di Traveloka. Ternyata jatuhnya lebih murah dari harga kamar Value Hotel Thomson yang sudah naik.

Ingat, cek juga ulasan di Trip Advisor. Gue selalu cek foto-foto kiriman reviewer dan baca ulasan-ulasan terbaru. Supaya tahu kondisi terakhirnya.

Saldo = 12,808,600 - 2,922,272 = Rp 9,886,328,-


3. Transportasi

Atas musyawarah mufakat, transportasi selama di Indonesia tidak dimasukkan ke dalam budget. Sekarang, tinggal transportasi selama di Singapura. Karena gue sekeluarga berbudget ketat, kami memutuskan hanya menggunakan MRT dan bus umum. Ini tentunya akan sangat mempengaruhi pengaturan waktu. Perjalanan menuju masing-masing platform di stasiun, lumayan memakan waktu. Apalagi kalau bawa anak kecil, kita disarankan menggunakan elevator. Yang letaknya kadang tersembunyi.

Dari sisi efisiensi waktu, saat menggunakan MRT perjalanan dari Changi ke stasiun Dhoby Ghaut ditempuh dalam waktu kira-kira 33 menit. Jauh lebih lambat dibanding kalau menggunakan taksi, yaitu hanya sekitar 15 menit. Ditinjau dari biaya, memang kebalikannya. Bahkan untuk 3 orang penumpang, total ongkos SMRT masih 1/2 ongkos taksi. Khusus akses ke/dari Changi bisa di cek di situs Changi Airport.

Jadi, lebih baik pertimbangkan juga biaya dan waktu dalam memilih transportasi yang akan digunakan nanti. Selain kita akan lebih tenang menikmati suasana liburan, biayanya pun sudah diperhitungkan. Untuk mencari referensi waktu dan biaya, gue pakai situs Rome2Rio.com. Selain itu, ada juga Taxi Fare Calculator yang tautannya gue nemu di TripAdvisor dan MRT Fare Calculator di MRT.sg yang memakai peta kota sebagai acuan.

Sumber: MRT.sg
Ada juga program penghitung biaya MRT (Train Fare Calculator) dari MyTransport.sg yang menambahkan informasi daftar tempat-tempat apa saja yang ada di sekitar stasiun keberangkatan/tujuan. Arahkan kursor ke stasiun yang dimaksud, informasi stasiun langsung muncul di layar. Contohnya seperti gambar di bawah ini.

Sumber: MyTransport.sg
Klik pada Boarding Stn jika stasiun tersebut dipilih sebagai stasiun keberangkatan, Atau, klik di Alighting Stn jika dipilih sebagai stasiun tujuan. Cukup mudahkan? Bedanya dengan situs MRT, situs MyTransport menggunakan peta jalur MRT sebagai acuan.

Bagi yang memilih MRT dan bus, sebaiknya membeli Singapore Tourist Pass. Ada beberapa Tourist Pass yang ditawarkan di Singapura. Yang dimaksud di sini adalah Singapore Tourist Pass yang berupa kartu ez-link berlaku untuk semua bus umum, MRT, dan LRT. Unlimited dan berlaku sesuai jumlah hari di paket yang kita beli. Misalnya, gue beli paket untuk 3 hari padahal baru sampai di Changi pas jam makan siang. Nah, hari itu tetap dihitung hari ke-1 dan masa berlaku kartu gue tetap hanya sampai malam hari ke-3.

Gue pilih paket 3-Day Pass seharga 20 SGD/ orang, dengan tambahan deposit 10 SGD. Deposit akan dikembalikan saat kartu dikembalikan. Lumayan banget kalau dapat pengembalian 30 SGD waktu mau pulang ke Indonesia. Pembelian kartu dapat dilakukan di stasiun-stasiun bertanda merah di bawah ini.

Sumber: Thesingaporetouristpass.com.sg
Untuk jam operasi masing-masing Transitlink Ticket Office, serta info lebih lengkap bisa dilihat di sini (situs Singapore Tourist Pass) dan di sini (situs TransitLink). Demi efisiensi, gue berencana melakukan pembelian dan pengembalian kartu di stasiun MRT Changi Airport terminal 2. Jadi hari ke-4 nanti, gue akan bayar MRT menuju Changi tanpa Singapore Tourist Pass. Kalau cuacanya cerah, paling jalan-jalan sebentar ke Orchard.

Total bayar Singapore Tourist Pass = 3 x 30 SGD = 90 SGD, yang menurut kurs MrsBuckwheat setara dengan Rp 881.000,- (per November 2016). Hehehe... Sengaja gue kasih kurs lebih mahal buat jaga-jaga.

Saldo = 9.886.328 - 881.000 = Rp 9.005.328,-

Spoiler: Ternyata V nggak perlu beli Singapore Tourist Pass (STP) lho! Gue baru tahu waktu mau beli STP di stasiun MRT terminal 2 Changi. Cukup menunjukkan passport anak, lalu akan diberikan Child Concenssion Card secara gratis. Kartu ini hanya berlaku selama anak berumur di bawah 7 tahun dan tidak bisa dipakai di bus premium serta NightRider. Ingat! Meskipun gratis, kartu ini juga harus di-tap saat keluar masuk stasiun MRT atau saat naik bus. Karena kalau nggak, bisa error. Jika terlanjur tidak berfungsi, segera lapor ke MRT ticket office terdekat. Selengkapnya ada di sini.


4. SIM Card

Perlu nggak ya beli SIM Card operator lokal Singapura? Menurut Mister perlu! Sebelumnya kami datang ke Grapari dan menanyakan harga terbaru paket roaming internasional yang, mohon maaf, nggak dishare di sini. Paket internet tiap operator biasanya sering berubah.

Dihitung-hitung, paket perdana operator lokal Singapura lebih murah daripada paket roaming internasional operator telekomunikasi yang kami gunakan. Per November 2016, paket perdana Internet di beberapa operator telekomunikasi Singapura kuota dan harganya sama. Walaupun begitu. Mister tetap mengaktifkan paket roaming internasional selama 1 hari dari Kartu Halo. .

Kok cuma 1 hari paket roamingnya? Rencananya memang mau beli SIM card di Changi. Tapi kok khawatir harganya akan lebih mahal di bandara. Lebih aman kalau punya cadangan. Bagaimanapun Internet diperlukan pas liburan nggak pakai jasa tur.

Saldo = 9,005,328 - 147,000 = Rp 8.858.328,-

Spoiler: Mister beli SIM Card M1 reguler di 7 Eleven stasiun Dhoby Ghaut. Daftar pakai paspor dan langsung aktif di hari yang sama. M1 juga punya Prepaid Tourist SIM dengan kuota data lokal hingga 100 GB selama 5-10 hari. Paketnya termasuk panggilan lokal, SMS lokal, dan panggilan internasional yang lebih lengkapnya di situs M1.

  • ITINERARY
Hip hip hooray! Akhirnya sampai ke sesi itinerary. Fiuh! Trik menyusun itinerary ala MrsBuckwheat, yaitu:

  1. DAFTAR. Buat daftar semua tempat yang ingin dikunjungi. Beri informasi harga dalam kurs SGD dan Rupiah. Lengkap dengan harga yang berlaku untuk orang dewasa dan anak-anak, baik weekday maupun week end dan libur nasional Singapura. Ingat jangan sampai salah catat harga untuk warga negara dan penduduk Singapura. Selisih harganya lumayan jauh loh.
    Tot = total SGD, A = Adult, K = Kids
  2. HITUNG SISA BUDGET. Pilih tempat-tempat yang paling ingin dikunjungi. Jumlahkan biayanya dan masukkan dalam budget. Apakah sisa uangnya cukup untuk makan teratur dan belanja termasuk oleh-oleh? 
    Ini harga dalam ribuan Rupiah. Yang abu-abu itu coretan harga sesuai kurs asli.
  3. ELIMINASI. Setelah mengeliminasi dengan berat hati tempat-tempat yang nggak masuk budget. Sekarang masukkan tempat tujuan yang terpilih ke dalam itinerary. Sebelumnya, catat jam operasional dan batas akhir pembelian tiket masuk. Jika jadwal acara terlalu banyak, ada baiknya di print saja. Contohnya, jadwal kegiatan Pororo Park. In case, mendadak mau ganti hari/waktu.
    Tulisan acak adut gue. Akhirnya batal ke National Gallery.
  4. ALOKASI WAKTU. Budget cukup, waktunya yang kurang? Buat jadwal kegiatan lengkap dengan alokasi waktu. Mulai dari sarapan sampai waktu sampai di hotel malam harinya. Nggak perlu juga sih masukin durasi mandi dan jam bangun tidur. Gue biasanya nyebutin jenis kegiatannya aja. Misal, "Siap-siap (ganti baju, shalat)". Yang penting, waktu sarapan artinya sudah siap berangkat. Tinggal sarapan saja. Apalagi yang seperti gue, lebih sering sarapan di stasiun MRT. Sebaiknya, susun itinerary dengan rute yang berurutan supaya nggak bolak-balik.
  5. TRANSPORTASI. Tambahkan detail transportasi pilihan di setiap tujuan. Misalnya, "Pukul 14.30, Ke St, Dhoby Ghaut. Menuju CE1 Bayfront St. Exit C & D, 10 menit jalan kaki ke ArtScience Museum.". Bagi backpacker handal hal ini mungkin sepele. Tapi untuk keluarga yang bepergian dengan bocah pecicilan, khususnya gue, membuat itinerary yang lengkap sungguh sangat membantu.
  6. KEGIATAN. Tambahkan kegiatan yang ingin dilakukan di setiap tujuan. Contohnya, foto pose minum air mancur Merlion, ke toko souvenir, beli postcard, dll. Sewaktu liburan, umumnya kita akan sangat excited sampai lupa mau ngapain aja. Apalagi yang hobi foto-foto. Gue bahkan bawa contoh angle foto yang diprint di kertas A4. 
  7. KENYANG. Tambahkan...tempat makan! Buat gue, makan itu nomor satu saat bepergian dengan anak kecil. Waktu honeymoon dulu, nggak makan nggak apa-apa. Kaki lecet nggak apa-apa. Sekarang, Nay! Nay! V suka nggak mau makan kalau disuruh. Justru V laparnya kalau lihat restoran. Bagus nggak bagus tempatnya, dia akan lapar begitu lihat makanan. Makanya, penting banget untuk survey tempat makan yang dekat dengan lokasi kegiatan saat jam makan. Kalau mau lihat sekilas harga menu makanannya, biar bisa kira-kira mau makan apa di sana. Hemat waktu dan dompet nggak bolong. Kebanyakan situs tujuan wisata di Singapura sangat lengkap, mencakup tempat makan bahkan harga merchandise juga ada. 
  8. BELI APA. Seperti yang gue sebutkan di atas. The most exciting thing is I can browse to each destinations websites and find their merchandises price. Superb! Cocok buat yang sering kalap lihat barang-barang lucu. Catat barang yang dimau lengkap dengan harganya ya.
  9. VISUAL. Siapkan peta penunjang itinerary. Seperti peta lokasi tempat dan peta jalur MRT. Gue pribadi lebih suka pakai peta dari situs StreetDirectory.com. Monggo klik di sini, untuk lihat contoh peta YWCA Fort Canning Lodge. Untuk peta jalur MRT terbaru bisa diunduh di situs Land Transport Authority (link).
Karena budget cukup ketat, tingkat persaingan di antara gue, Mister, dan V pun meninggi. Mister mau ke SEA lihat Pokemon. V mau ke Pororo Park dan ke USS ketemu Elmo. Sedangkan, gue berniat ke Future World. Mau semuanya tapi dana nggak cukup.

Itinerary MrsBuckwheat
Salinan itinerary gue. Bahasanya gado-gado.
Dan akhirnya, yang terpilih adalah...
- Future World di ArtScience Museum
- Gardens By The Bay, tidak masuk konservatorium.
- Universal Studio Singapore (USS)
- Clarke Quay
- Singapore Botanic Gardens, terutama Jacob Ballas Children's Garden
- Haji Lane
- Merlion Park
- Pororo Park
- Orchard Road
Saldo = 5.311.000,-. Cukup nggak tuh buat makan, jajan, dan belanja? Dicukup-cukupin ^o^.


Lecek banget karena sering dibuka dan dilipat.
Ta-da! Nggak ada foto = hoax katanya. Inilah catatan itinerary gue yang super buluk. Pernah satu hari catatan ini ketinggalan, jadi galau. Untungnya sudah agak hafal. Lain kali, mesti difotokopi buat cadangan.

Penting nggak sih bikin itinerary seperti ini? Hm.. Sepengalaman gue, catatan ini sangat membantu. Bentuknya yang berupa kertas lebih mudah dipegang. Gue nggak perlu khawatir kalau tiba-tiba jatuh atau tersenggol orang. Berbeda halnya dengan handphone yang kalau jatuh, hati langsung merana. Belum lagi pas baterenya habis, powerbank ngadat, atau nggak dapat sinyal. Gue sih butuh keduanya. Catatan dan handphone berpaket Internet hehehe..

Last but not least, memantapkan hati bahwa liburan adalah sarana untuk mendekatkan anggota keluarga. Gue dan Mister sepakat untuk nggak saklek dengan itinerary kami. Namanya juga liburan dengan anak kecil yang terkadang susah ditebak maunya dan belum sekuat orang dewasa. Yang penting V enjoy dan sehat. Makanya semua tiket masuk kami beli di tempat masing-masing. Supaya tidak berasa dikejar-kejar waktu karena kebanyakan tiket-tiket yang ditawarkan online sifatnya closed date.

Semoga tips dan trik di atas bisa membantu yang lagi panik nyiapin itinerary.

Spoiler: Akhirnya batal ke Clarke Quay. Kelar main di USS, V minta naik Luge di Sentosa. Hari ketiga juga batal ke Singapore Botanic Gardens. Pagi-pagi langsung ke Merlion Park. Setelahnya baru ke Bugis Junction, makan siang di Bugis +, cuci mata di Bugis Street, lalu ke Haji Lane dan Pororo Park. Malamnya, makan malam di Plaza Singapura dan jalan-jalan di Orchard.





You Might Also Like

6 comments

  1. Trims untuk sharenya. Jadi ada referensi budget buat liburan

    ReplyDelete
  2. Waaaooo keren banget nih, bookmark ah buat dibaca lagi kalau jadi ke Singapura nya.
    Keren ya 16 juta bisa ke luar negeri.
    Nah saya, mau mudik aja butuh 20 juta dalam negeri hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...terima kasih :)
      Enaknya di sana bisa mengandalkan MRT dan bis. Bahkan banyak yang bisa dijangkau dengan jalan kaki.

      Delete
  3. Tulisan yang sangat lengkap, sampai ke itinerary. Tanpa persiapan yang cukup akan mengalami sejumlah kesulitan. Hotel-hotel alternatif dapat dilihat di : https://www.pojokcerita.com/2014/01/preferred-choice-for-budgeted-hostels.html

    ReplyDelete

Blogger Perempuan