Penuhi Kebutuhan Gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan
Monday, May 28, 2018
Penuhi Kebutuhan Gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan
Stunting telah menjadi perhatian serius banyak pihak, mengingat sejumlah
dampak buruk yang dapat terjadi akibat kondisi tersebut. Sinergi berbagi pihak
serta upaya pencegahan dan pengentasan pun terus dilakukan.
Dewan Pembina Perhimpunan Dokter
Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D mengungkapkan,
stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak, umumnya terjadi karena tidak
tercukupinya kebutuhan akan asupan gizi, khususnya pada seribu hari pertama
kehidupan.
“Pada pertumbuhan fisik terlihat
dari tinggi badan yang lebih pendek dibanding standar anak-anak dengan usia
yang sama, berat badan juga rendah untuk anak seusia, proporsi tubuh cenderung
normal namun anak tampak lebih muda atau kecil untuk seusianya,”ujarnya dalam
Seminar ‘Mencegah Stunting, Meningkatkan Daya Saing Bangsa’, di Universitas
Diponegoro, pada Februari lalu.
Tak sebatas itu, stunting juga
dikaitkan dengan keterlambatan perkembangan otak, dalam jangka panjang dapat
berdampak pada prestasi belajar maupun kekebalan pada kapasitas kerja. Selain
itu, stunting juga berpotensi menyebabkan diabetes, obesitas, penyakit jantung,
kanker dan stroke.
Salah satu upaya pencegahan dengan
memenuhi kebutuhan asupan gizi dalam seribu hari pertama kehidupan. Yaitu
selama masa kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan.
“Perlu ada intervensi perbaikan
gizi dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui dan anak baru lahir hingga usia 6
bulan serta ibu menyusui dan anak usia 6 bulan hingga dua tahun,”ujar Guru
Besar Universitas Negeri Jakarta ini.
Intervensi dengan sasaran ibu
hamil diantaranya, memberikan makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi
kekurangan energi dan protein kronis, mengatasi kekurangan zat besi dan asam
folat, mengatasi kekurangan iodium, menanggulangi kecacingan pada ibu hamil dan
melindungi ibu hamil dari malaria.
Intervensi dengan sasaran ibu
menyusui dan anak baru lahir hingga usia 6 bulan bisa dilakukan dengan
mendorong inisiasi menyusui dini serta mendorong pemberian ASI eksklusif.
Sedangkan intervensi dengan
sasaran ibu menyusui dan anak usia 6 bulan hingga dua tahun diantaranya dengan
mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh
pemberian MP-ASI, menyediakan obat cacing, menyediakan suplementasi zink, melakukan
fortifikasi zat besi ke dalam makanan, memberikan perlindungan terhadap malaria,
memberikan imunisasi lengkap serta melakukan pengobatan dan pencegahan diare.
Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai
program pemerintah bersinergi dengan berbagai pihak banyak dilakukan.
Diantaranya program ‘Nginceng Wong Meteng’
atau dalam Bahasa Indonesia berarti ‘Ngintip Orang Hamil’. Program yang
telah diterapkan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah sejak 2015 lalu ini
merupakan sebuah langkah pencegahan stunting.
“Nginceng Wong Meteng ini merupakan program dari Dinas Kesehatan
Provinsi Jateng, yaitu memeriksa kesehatan para ibu hamil, apakah sudah sehat
dan gizi yang didapat sudah tercukupi,”ujarnya.
Program ini ditindaklanjuti
dengan pengoptimalan peran Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarat) dan Posyandu
(Pos Pelayanan Terpadu). Seperti yang dilakukan di Kelurahan Kalipancur,
Semarang, baru-baru ini.
Setidaknya 400 balita diukur,
ditimbang dan dicek kesehatannya, selain itu para orang tua yang datang juga
diberi penyuluhan terkait asupan gizi dan masalah kesehatan.
“Pengoptimalan peran posyandu dan
puskesmas ini sebagai upaya kami untuk pencegahan stunting dan potensi-potensi
penyakit lainnya. Kegiatan semacam ini rutin dilakukan per bulannya. Sehingga bila
ada anak yang terdeteksi kurang gizi, bisa segera dilakukan pendampingan untuk
penangannya,”ujar Lurah Kalipancur, Indriastuti.
Selain itu, imbuh Fasli, sinergi
dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga membantu
untuk pencegahan kondisi gagal tumbuh pada anak. Diantaranya dengan edukasi
kesehatan seksual, reproduksi serta gizi pada remaja.
“Remaja perlu dibekali informasi
dan pemahaman terkait hal-hal tersebut. Karena pendewasaan usia kehamilan juga
dapat menurunkan kejadian stunting, bayi berat lahir rendah dan angka kematian
bayi,”katanya.
0 comments