Kang Tris : Pelestari Tiga Profesi di Desa Menari

Thursday, October 31, 2019


Desa, boleh dibilang menyimpan potensi yang luar biasa, tapi tak sedikit warga mudanya yang justru tergiur “janji manis” kota, lantas bermigrasi. Sehingga menipislah regenerasi profesi-profesi penopang harmonisasi kehidupan di pedesaan. Diantaranya, petani, peternak dan seniman. 

Trisno, sang pemuda kampung memiliki mimpi besar. Alih-alih mengadu nasib di kota besar seusai menamatkan kuliahnya, ia justru kembali ke kampung halaman. Alumnus Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta ini menerapkan ilmunya, membuka cakrawala sesama rekan pemuda desa, menggerakkan mereka, menggali berbagai potensi, memajukan perekonomian warga disokong kemajuan teknologi berbasis kearifan lokal.

Oase di Tengah Pengapnya Hiruk Pikuk Perkotaan

“Sugeng rawuh… monggo pinarak. Acaranya sudah mau mulai”, santun sejumlah sesepuh yang didapuk menjadi Among Tamu (penerima tamu) menyambut para wisatawan lokal yang berdatangan di Festival Lereng Telomoyo, pada Sabtu, 12 Oktober lalu.

Sebuah panggung terbuka telah siap. Kegagahan Gunung Telomoyo menjadi latarnya. Tak lama, para pengrawit dari Sanggar Ki Tanuwijaya yang berada di sisi kiri panggung mulai menabuh gamelan dan alat-alat musik lainnya. 

Bocah-bocah berkostum merah dengan riasan wajah jenaka bermunculan. Mereka menarikan Geculan Bocah. Seni yang diadaptasi dari Tari Warok, tapi sejumlah gerakan disesuaikan dengan dunia anak yang jenaka.

Tari Geculan Bocah

Usai menikmati kejenakaan bocah-bocah penari, pengunjung diajak ke Pelataran Sanggar. Sebetulnya, ini adalah halaman rumah warga yang multifungsi, salah satunya sebagai arena bermain (sebuah arena yang mungkin makin jarang kita temui di perkotaan). 

Ada permainan Suda Mada, Cublak-Cublak Suweng dan Egrang. Menariknya, semua jenis permainan ini tidak hanya dipertontonkan saja oleh para remaja setempat, tapi pengunjung juga dipersilakan ikut menjajal.
Hasilnya… 

Riuh! atau kalau kata anak-anak zaman sekarang “Pecah!”. Pengunjung antusias, anak-anak bermain, orang tua bernostalgia. Ada yang penasaran sekali bermain egrang, berkali-kali jatuh, coba lagi, coba lagi, sampai bisa, lantas bersorak-sorai. Bungah! Sumringah! Looossss! 


Bermain Egrang

Oiya, tidak hanya anak-anak dan remaja lho, ibu-ibu juga ambil bagian. Mereka menjadi “band” pengiring selama permainan berlangsung. Alat musiknya berupa pengolah gabah atau Lesung, karena itu musik tradisional ini juga dinamakan Lesung Jumengglung. 

Kayu yang dipukulkan bergantian ke dalam cekungan Lesung mengeluarkan irama bersaut-sautan. Lagi-lagi ada sejumlah pengunjung yang penasaran, ingin mencoba. Nada boleh tidak seirama, tapi hati tetap gembira.

“Ayo… Kapan lagi bisa nutuki (memukul-mukul) kayu, tanpa dimarahi tetangga. Hehe.. ,”celetuk salah seorang pengunjung.

SEMANGAT - Pengunjung antusias memainkan Lesung Jumengglung bersama ibu-ibu Desa Menari

Puas bermain, perut krucuk-krucuk. Tenang, di sini juga sudah disiapkan makan siang. Suguhannya pun istimewa, masakan tradisional, masakan rumahan yang sederhana tapi menggugah selera. Bahkan, ada yang sengaja datang ingin menyicipi sego jagung (nasi jagung).

“Aku penasaran lho, ingin nyicipi sego jagung. Seperti apa tho rasanya,” kata Fiska, pengunjung dari Semarang Timur sembari memegang piring, antre menunggu giliran menyendok nasi jagung dan lauk pauknya yang disediakan di teras rumah warga.

Kenyang sudah, tapi tunggu, jangan pulang dulu. Masih ada satu lagi penampilan yang menjadi ‘gong’ acara hari ini. Tari Topeng Ayu yang ditampilkan di halaman rumah warga. Sebuah tarian khas yang muncul di kawasan 5 gunung di Jawa Tengah. Nama aslinya, Topeng Ireng akronim dari “Toto Lempeng Irama Kenceng”. Berasal dari alur tarian yang berkisah dengan barisan penari yang bergerak tertata diiringi musik menghentak. Kemudian di-branding ulang menjadi Tari Topeng Ayu atau singkatan dari “Toto Lempeng Hayuning Urip”.

Remaja Desa Tanon membawakan Tarian Topeng Ayu.
Masih betah? Ayo lanjut memerah sapi! Ya, penduduk di desa ini sebagian berprofesi sebagai peternak. Pengunjung tak hanya bisa menyicipi hasil olahannya saja, tapi juga bisa ikut menengok kandang dan praktik langsung memerah sapi.

Mari memerah sapi

Kang Tris

Aktivitas-aktivitas di atas adalah bagian dari rangkaian Festival Lereng Telomoyo yang digelar selama dua hari di Desa Wisata Menari, Dusun Tanon, Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Memang, tidak tiap hari festival digelar, namun kita tetap bisa ikut serta dalam aktivitas keseharian mereka, bertani, beternak, belajar menari, bermain dolanan tradisional atau outbound dengan memesan paket-paket experience tourism tersebut. Bagi pengunjung yang jauh atau ingin lebih lama menikmati kesegaran udara dan kedamaian suasana pedesaan, disediakan juga homestay.

Menarik, bukan ? Tapi, desa wisata ini juga tidak serta muncul begitu saja. Trisno-lah, yang kali pertama menggerakkan. Berawal dari tekadnya membangun tanah kelahiran, mewujudkan masyarakat produktif, religius dan berbudaya. Visi tersebut sudah ia bangun sejak tahun 2002, saat masih berstatus sebagai mahasiswa.

Tahun 2006, selepas menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Surakarta, pria yang akrab disapa Kang Tris ini mulai merealisasikan gagasan-gagasannya. Pertama dengan fokus ke pemberdayaan di sektor peternakan, karena mayoritas masyarakat daerah ini adalah petani dan peternak.

Tiga tahun berjalan, banyak yang mengatakan, bahwa upayanya berhasil. Salah satu indikasi dengan berdatangannya program-program CSR (Corporate Social Responsibility), warga juga banyak berinteraksi dengan tamu-tamu yang datang dari perusahaan.

Meski begitu, menurutnya justru ada kegagalan, karena tak sesuai konsep awal. Lantas pada tahun 2009, Trisno mulai menginisiasi sebuah Laboratorium Sosial, fokus pada konservasi petani, peternak serta seniman-seniman lokal. Ia mengibaratkan, Tanon adalah sebuah rumah, wisata menjadi salah satu pintu masuk yang efektif untuk merealisasikan visi-visinya, salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat.

“Fokus pertama pada tiga sektor tesebut, karena saya miris melihat profesi-profesi tersebut kehilangan generasi. Anak-anak muda jarang yang mau meneruskan profesi tersebut. Maka, kita cari cara, agar mereka mau balik ke kampung halamannya,”kata Trisno saat berdialog dengan sejumlah pengunjung.

Selain itu, pendekatan wisata sifatnya membangun ke dalam dan ke luar. Ke dalam memberi pemasukan, membuka akses wawasan masyarakat. Ke luar dengan melakukan promosi, kegiatan-kegiatan wisata yang mereka lakukan.

Kang Tris, Pemuda Penggerak

Warga pun berkomitmen, bersama-sama mengembangkan desa tersebut, menjadi lebih terbuka dengan pendekatan wisata. Desa Menari dipilih sebagai brand dari Desa Tanon ini. Selain sebagian penduduknya merupakan seniman yang piawai menari, juga merupakan akronim dari Menebar Harmoni, Merajut Inspirasi dan Menuai Memori.

Hasilnya, desa ini makin banyak dikenal, memikat lebih banyak wisatawan. Per tahun, rata-rata bisa mencapai 1.500 – 3.000 kunjungan wisatawan. Bukan angka yang tergolong ‘meledak’, karena memang tujuan utama adalah tumbuh kembang warga.

Dan ya, sumber daya manusia warga desa ini pun berkembang. Mereka terpacu mengembangkan ketrampilan. Seperti yang diungkapkan oleh Titik Ananti. Salah seorang penari Topeng Ayu ini ingin sekali fasih berbahasa Inggris, karena banyaknya wisatawan dari mancanegara.

Begitu halnya dengan Trisno yang memperoleh berbagai penghargaan. Diantaranya, penerima apresiasi SATU (Semangat Astra Terpadu) Indonesia Award kategori lingkungan dari PT Astra International Tbk pada tahun 2015, dan di 2016 ia menjadi penerima SATU Indonesia Award yang pertama kali mengelola Kampung Berseri Astra (KBA).

Miskin Objek, Kaya Kreativitas

Apa yang kita lihat saat ini, tentu bukanlah instan. Trisno mengakui, tak mudah mewujudkan niat baiknya tersebut. Tantangan demi tantangan berdatangan silih berganti. Banyak keraguan yang sebelumnya juga timbul dari internal warga, pun halnya terpentok masalah dana. 

“Warga di sini awalnya juga bertanya, bagaimana kita memulai perubahan yang akan kita lakukan. Kita dapat dana dari mana? Nah, ini termasuk hal berat, meyakinkan, memberikan pemahaman pada masyarakat, bahwa ayo kita berkarya dulu. Caranya ya terus menerus saya ajak berdiskusi, ajak berkarya,”kenangnya.

Kedua, gagasan-gagasan tersebut awalnya belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat. Dengan dalih, desa Tanon tidak memiliki objek-objek wisata yang dinilai dapat dijual. Sementara Trisno melihat, tren wisata mulai bergeser, dari yang hanya sebatas mengunjungi dan melihat objek wisata menjadi jenis-jenis wisata yang mengedepankan keterlibatan alias experience tourism.

Tidak patah semangat, Kang Tris justru semakin tertantang. Pria kelahiran 12 Oktober 1981 ini menarget tak lebih dari tiga tahun, Desa Menari bisa berkembang. Ia yakin meski tidak memiliki objek, tapi banyak potensi yang bisa digali. Sesederhana aktivitas keseharian mereka.

“Saya meyakini, puncak potensi manusia adalah kreativitas. Selama masih bisa berpikir, menggunakan otak dan hatinya itulah potensi. Walaupun punya potensi alam sebanyak apapun, tapi otaknya, hatinya tidak diolah, tidak dikembangkan ya tidak jadi apa-apa,”penuh semangat Trisno bercerita.

Trisno optimis hadapi tantangan demi tantangan.

Hingga, pada tahun 2015, Trisno menjadi penerima apresiasi SATU Indonesia Award kategori lingkungan dari PT Astra International Tbk. Bantuan untuk konservasi mulai mengalir.

Pengembangan Terintegrasi dengan Empat Pilar Astra

Tahun 2016, Desa Menari terpilih menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) yang ke-27 dalam lingkup nasional. Tak lagi sebatas pendekatan wisata, namun terus berkembang selaras dengan program Astra yang bergerak di empat pilar. Yaitu pendidikan, kesehatan, kewirausahaan serta lingkungan.

Pilar pendidikan fokus pada pengembangan soft skill masyarakat. Diskusi kerap digelar dengan berbagai tema terkait pengembangan desa. Seperti mengasah kepiawaian dalam public speaking, atau juga pengembangan-pengembangan pertanian.

Selain itu, sebanyak 36 anak mendapat beasiswa, merata dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini dinilai juga mempercepat perkembangan karakter serta pertumbuhan ekonomi warga. 

Pilar kesehatan juga dikembangkan dengan sistem jemput bola. Bermitra dengan Puskesmas, tiap bulan diadakan pemeriksaan gratis, dengan difasilitasi sarana dan perlengkapan dari Astra, para kader kesehatanlah yang menyambangi warga. 

Dari segi kewirausahaan, masyarakat mengelola paket-paket wisata. Mulai dari aktivitas keseharian yang mereka jual, pasar rakyat hingga pola manajemennya.

Sedangkan dari sisi lingkungan, adanya penataan zonasi. Setelah didampingi Astra sekarang sudah terdapat 26 homestay dengan bantuan perbaikan fasilitas kamar mandi, serta perbaikan sarana prasarana, diantaranya konservasi mata air.


Gaung Desa Menari makin santer terdengar. Tapi, Trisno tidak ingin berpuas diri di sini, ia masih memiliki sebuah mimpi besar. Yaitu mewujudkan perusahaan sosial berbasis kepala keluarga. Yaitu perusahaan yang menggali, mengkreasikan potensi-potensi yang ada di desa dalam satu manajemen. Berbasis kepala keluarga, karena ia ingin hasilnya kembali lagi kepada warga.

Diakuinya, proses masih panjang, masih akan banyak tantangan ke depan. Toh, saat ini generasinya hadir sebagai perintis, yang harapannya akan diteruskan oleh generasi anak-anak mereka dan bisa dinikmati hingga generasi cucu-cucu mereka.

Dari Trisno, kita dapat memetik banyak hal positif. Salah satunya adalah yang kerap ia ungkapkan, “Lihatlah suatu hal dari sederhana, dari sudut pandang berbeda, lakukan dengan cara yang berbeda, nikmati prosesnya, pasti hasilnya berbeda”.

                                        ***



You Might Also Like

0 comments

Blogger Perempuan