Rawat Cagar Budaya Untuk Masyarakat yang Lebih Berdaya
Wednesday, November 20, 2019
Lahir dan besar di Semarang,
menjadikan saya sebagai salah satu saksi perkembangan ibukota Jawa Tengah ini. Mulai
dari bertumbuhnya gedung-gedung baru hingga revitalisasi beberapa kawasan yang
sarat akan sejarah dan nilai-nilai budaya.
Saya ingat, tahun 90-an akhir
hingga 2000-an awal (sebagai tambahan informasi, saya bagian dari generasi
milennial, hehe), tiap kali menuju Stasiun Tawang untuk bepergian bersama
keluarga dengan moda kereta api, kami akan melintasi sebuah kawasan.
Kota Lama namanya. Sesuai
namanya, di kawasan ini terdapat gedung-gedung tua, tapi dengan kondisi yang
tidak terawat. Dinding-dindingnya usang, berlumut, cat mengelupas, bahkan ada
sebagian yang atapnya sudah runtuh. Kumuh. Itulah citra yang tersematkan.
Saat malam, remang-remang cahaya
lampu dan rembulan menerangi gang demi gang. Tapi, bagi saya, alih-alih terasa
romantis, justru lebih mengarah ke mistis. Ya karena dikelilingi
bangunan-bangunan tua dengan kondisi yang mengenaskan tadi. Ditambah lagi
dengan banyaknya bangkai mobil dan truk yang dibiarkan teronggok di sana.
Seperti melintasi kota mati rasanya. Merinding.
Padahal, kawasan ini memiliki
aset yang luar biasa. Diantaranya adalah bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur
menarik, yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
Apa Sih Cagar Budaya ?
Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 11 Tahun 2010, Cagar Budaya merupakan warisan budaya bersifat
kebendaan, yang berupa benda, struktur, bangunan, situs dan kawasan.
Benda cagar budaya adalah benda alam
dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa
kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki
hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
Struktur Cagar Budaya adalah
susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk
memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana dan
prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.
Bangunan Cagar Budaya adalah
susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk
memenuhi kebutuhan ruang berdiding dan atau tidak berdinding, dan beratap.
Situs Cagar Budaya adalah lokasi
yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya.
Kawasan Cagar Budaya adalah
satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang
letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
Tepis Nuansa Mistis Menjadi Romantis
Kembali ke Kawasan Kota Lama, dari
45 Bangunan Cagar Budaya di Semarang, setidaknya lebih dari 10 bangunan ada di
kawasan tersebut. Diantaranya, Gereja Blenduk, Gedung Asuransi Jiwasraya, Bank
Mandiri, Gedung Marba, Gedung PT. PELNI serta Gedung PT.Panca Niaga.
Seperti yang saya tuliskan
sebelumnya, pada era tahun 2000-an awal, sama sekali tak terbersit untuk
berwisata atau mengajak tamu dari luar kota untuk jalan-jalan di seputar
kawasan tersebut. Beda halnya dengan sekarang, bila ada kerabat atau teman dari
luar kota, dengan bangga saya mengajak mereka berkeliling kawasan yang tak jauh
dari area pelabuhan ini.
Berawal dari sekitar tahun 2012, Walikota
Semarang ‘memprovokasi’ para pemilik bangunan untuk merevitalisasi aset-aset
mereka tersebut. Ditambah lagi dengan digaungkannya, Kota Lama akan dijadikan
salah satu ikon kota dan jujukan wisata.
Bagai mutiara dalam lumpur yang
dibersihkan dan dipoles. Tampaklah kemegahan arsitektur gedung-gedung kuno yang
dibangun sekitar era 1.700-an ini.
Usai dipugar, gedung-gedung yang
dimiliki oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diaktifkan kembali sebagai
kantor. Sedangkan gedung yang dimiliki swasta ada yang dijadikan sebagai
galeri, atau disewakan untuk usaha. Ada café, resto, galeri UMKM hingga co-working space.
Gedung Spiegel. Dimanfaatkan untuk resto dan co-working space |
Pun halnya pemerintah, mempercantik
kawasan ini. Mulai dari sistem sanitasi, jalan-jalannya hingga penerangan. Kota
Lama tak hanya hidup kembali, tapi semakin molek. Dari yang nuansa mistis jadi romantis,
dari yang kumuh menjadi jujukan wisata, bahkan tempat nongkrong hits anak-anak muda.
![]() |
Kota Lama di kala malam hari |
Perputaran Roda Ekonomi Terdongkrak Cagar Budaya
Kini, Kota Lama menjadi primadona.
Kesan kumuh atau mistis sudah tertepis, berganti menjadi kawasan wisata yang
sarat akan sejarah dan nilai-nilai budaya. Ditambah lagi kerap digelarnya
sejumlah festival, yang berhasil menyedot wisatawan, baik domestik maupun
mancanegara.
Keramaian ini turut mendorong
perputaran roda perekonomian. Tak hanya usaha kafe, coffe shop atau restoran, ada juga barang-barang hasil kerajinan
tangan para pelaku usaha mikro kecil menengah yang dipamerkan.
Tak hanya memperdagangkan barang,
tak sedikit juga yang menawarkan jasa. Seperti anak-anak muda kreatif yang
menjadi story teller. Mengusung
konsep walking tour, mereka mengajak
wisatawan mengelilingi Kota Lama dengan berjalan kaki. Sembari berjalan, mereka
menjelaskan sejarah kawasan ini. Menarik.
Baru-baru ini, tiap akhir pekan
juga digelar program Car Free Night. Para
pengunjung bebas berjalan kaki menyusuri kawasan tanpa terganggu lalu lalang
pengendara motor atau mobil. Kegiatan ini, juga membuka peluang bagi para
seniman lokal. Lantunan-lantunan lagu dibawakan mereka melalui permainan biola
atau saxophone.
Yuk, Rawat Cagar Budaya Indonesia
Kota Lama Semarang ini menjadi
gambaran, betapa pentingnya merawat cagar budaya. Ada sejarah yang tertoreh di
sini, ada jejak peradaban yang anak cucu kita juga berhak mengenalnya. Selain itu,
perawatan serta pengelolaan yang baik, menjadikan cagar budaya ini sebagai
salah satu magnet bagi wisatawan.
Oleh karena itu, yuk mari
bersama-sama kita menjaga dan merawatnya. Tak harus dengan hal besar, dari
hal-hal sederhana juga sangat bermanfaat. Mulai dari :
Stop Vandalisme
Ini dia, suka sedih kalau berkunjung
tak hanya ke Cagar Budaya, ke tempat wisata, bahkan ke alam, lantas banyak
menemukan coretan-coretan. Mulai dari tulisan-tulisan yang ‘ngga penting’
sampai gambar-gambar yang tak seharusnya.
Kalau sekedar iseng, tolonglah
jangan. Kalau merasa memiliki bakat, torehkan di media lain. Karena sayang
sekali, cagar budaya yang telah susah payah dirawat lantas menjadi kotor, kumuh
kembali dengan coretan-coretan yang tidak diharapkan.
Begitu juga dengan pengrusakan. Namanya
saja peninggalan ratusan tahun lalu, tentu tak sekuat di awal berdiri. Bila ada
larangan untuk menyentuh, maka patuhi. Jangan malah justru sengaja merusak.
Termasuk juga nyampah di sekitar Cagar Budaya.
Sebetulnya tidak hanya di kawasan Cagar Budaya saja, di semua tempat juga
baiknya tertib menjaga kebersihan. Karena bila kotor, tentu kita atau wisatawan
tidak akan nyaman mengunjungi dan berlama-lama di tempat tersebut.
Bantu Mengedukasi Masyarakat
Ini juga tak kalah penting. Tak
kenal maka.. berkenalan, hehe. Ya, edukasi juga menjadi upaya pelestarian.
Mengenalkan pada masyarakat, mana saja benda, struktur, bangunan, situs dan
kawasan yang masuk menjadi Cagar Budaya. Lalu apa saja nilai-nilai sejarah dan
budaya yang terkandung di dalamnya. Termasuk juga keuntungan-keuntungan bagi
masyarakat dari ‘memiliki’ Cagar Budaya.
Salah satunya dengan
berpartisipasi pada Kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!”.
Yuk, ikutan kompetisi sekaligus mengedukasi.
Referensi Tulisan :
www.detik.com
*Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi
“Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!”
0 comments